albertsumilat_tanjungkarawang_lionairjt610

Kisah Pencarian ke Dasar Perairan

Seorang kolega berpesan kepada saya, begini bunyi pesannya, “verba volant, scripta manent”, yang setelah saya tanya kurang lebih artinya adalah kata-kata lisan terbang, sementara tulisan abadi. Oleh karena itu, setelah mendapat ijin beliau saya kemudian bagikan satu dari sekian artikelnya ke platform ini.

Sebelumnya. alangkah baiknya kengkawan membaca tulisan dari tautan ini, untuk background story saja 🙂

hero

Langit ibu kota masih gelap, jalanan Jakarta masih sepi. Albert Sumilat dan Satria Purnatama sudah bergegas menuju muara Banjir Kanal Timur (BKT) di Marunda, Jakarta Utara, Rabu pagi. Di pagi buta itu, keduanya mendapat tugas tak biasa dari Koordinator Liputan NET. Mereka mau ikut tim penyelam Korps Marinir TNI AL. Misinya tak main-main, yakni mencari badan pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di Perairan Tanjung Pakis, Karawang, Senin pagi. Musibah yang dikhawatirkan menewaskan 189 penumpang yang ada di dalamnya.

Sea rider sedang bersiap berangkat di BKT Marunda, Jakarta Utara. (NET/Albert Sumilat)

“Fokus kita adalah mencari korban dan keberadaan body pesawat,” kata Komandan Batalyon Taifib I Korp Marinir, Mayor Mahfud, saat memberikan briefing kepada tim dimana Albert dan Satria ikut di dalamnya. Tim ini beranggotakan 48 personel gabungan dari Batalyon Intai Amfibi (Yon Taifib) dan Detasemen Jalamangkara (Denjaka). Batalyon Intai Amfibi merupakan satuan elit dalam Korps Marinir yang memiliki spesialisasi dalam operasi pengintaian amfibi dan pengintaian khusus. Sementara Detasemen Jalamangkara (Denjaka) merupakan detasemen penanggulangan teror aspek laut. Seluruh personel kemudian berpencar dibagi dalam 5 unit sea rider.

Tim Penyelam Korps Marinir di perairan Tanjung Pakis Karawang, Jawa Barat. (NET/Albert Sumilat)

Rombongan 5 sea rider ini langsung bergerak menuju ke lokasi yang sudah diselami sehari sebelumnya, di perairan Tanjung Pakis, Karawang. Dengan panduan GPS dan perlengkapan lain 5 sea rider bergerak cepat. Jarak sekitar 40 kilometer ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Albert dan Satria ikut di salah satu Sea Rider yang dinamai Hiu III. Sea rider Hiu III diisi 12 orang termasuk Albert dan Satria.

Cuaca sangat terik saat tim sampai di perairan Tanjung Pakis. 5 sea rider bergerak dengan pembagian wilayah pencarian masing-masing. Masing-masing sea rider berjarak sekitar 1 kilometer. Laut lepas dengan horison pandangan yang luas membuat Albert sempat ragu-ragu dengan misi pencarian. “Saya sempat pesimis, kayak mencari jarum di tumpukan jerami,” kata Albert saat mengingat pengalamannya pertama kali sampai di perairan Tanjung Pakis. Pikiran dalam benak itu seketika lewat saat Albert sadar harus mendokumentasikan kesibukan di dalam Hiu III.

Satria (paling kanan) bersiap mendokumentasikan kesibukan tim penyelam Korps Marinir. (NET/Albert Sumilat)

Para penyelam marinir bergegas mempersiapkan diri. Wet suit, tabung oksigen, buoyancy control device (BCD), mask, fin (kaki katak), dan alat lainnya, disiapkan dengan cekatan oleh para penyelam marinir. Albert dan Satria belum mendapatkan perintah untuk ikut menyelam karena memang belum ada temuan dari para penyelam. Dari pagi itu sampai menjelang tengah hari, tim penyelam marinir turun menyelam sampai 3 kali. Meski demikian, mereka belum mendapatkan temuan yang signifikan. Rasa gerah bercampur jenuh mulai melanda Albert. “Mateng nih kita kas,” kata Albert pada Satria. Albert memang biasa memanggil Satria dengan nama lain yaitu Kasmiyanto. Matahari semakin meninggi, tepat di atas ubun-ubun mereka.

Tim penyelam Korps Marinir bersandar ke Kapal Basudewa milik Basarnas. (NET/Albert Sumilat)

Saat semua penyelam sudah kembali, rombongan sea rider kemudian bergeser ke Kapal Basudewa milik Basarnas untuk mengisi tabung oksigen. Tim penyelam makan siang. Menunya nasi kotak. “Saya sudah enggak nafsu makan,” kata Albert. Selesai makan siang, sea rider kemudian bergeser menuju kapal milik BPPT, yaitu Kapal Riset (KR) Baruna I. Di kapal ini tim penyelam korps marinir berkoordinasi dengan Basarnas dan KNKT. Kapal Baruna I memang dibekali alat tertentu untuk mendeteksi sinyal blackbox, namanya Remote Operated Vehicle (ROV).

Sea Rider saat merapat ke Kapal Baruna I di perairan Tanjung Pakis Karawang. (NET/Albert Sumilat)

Selepas dari Kapal Baruna, sea rider langsung bergerak kembali menuju ke koordinat-koordinat tertentu sesuai yang diarahkan oleh komandan satgas di Kapal Baruna. Pergerakan dari Kapal Baruna inilah yang menjadi titik balik menentukan bagi misi pencarian. Sea Rider Hiu III yang membawa Albert dan Satria menuju ke satu titik. Suasana berbeda sudah mulai dirasakan Albert dan Satria.

Keduanya mencium bau avtur yang menyengat di tempat yang mereka datangi. Pemandangan mengejutkan pun mereka dapati. Beberapa potongan anggota tubuh manusia mengapung di permukaan laut. Albert pun sampai harus beberapa kali menghela nafas. Perasaannya campur aduk. Sampai di titik koordinat tujuan, penyelam dari Sea Rider Hiu III langsung cepat bergerak dan terjun ke laut. Setelah penyelaman ke-5, tim penyelam Korp Marinir mengatakan arus di bawah sudah tenang. “Wartawan boleh turun,” kata Pak Bob, salah seorang instruktur selam marinir di Hiu III.

Tim Penyelam Korps Marinir beraksi di dasar perairan Tanjung Pakis Karawang. (NET/Satria Purnatama)

Albert dan Satria terlibat dalam diskusi di antara mereka. “Gue panas, gue mau nyebur,” ujar Satria pada Albert. Albert pun membantu Satria mengenakan perlengkapan selamnya. Pada sekitar pukul 15.30 WIB, Satria akhirnya turun menyelam bersama 2 orang penyelam marinir. Standar menyelam memang mengharuskan adanya buddy system. Tidak diperbolehkan menyelam seorang diri.

Pada penyelaman inilah Satria melihat berbagai benda yang diduga kuat puing-puing pesawat Lion Air. Di kedalaman 32,5 meter, tepat di dasar laut Tanjung Pakis, Satria mulai melihat serpihan pesawat, seperti benda mirip kursi, berbagai barang ringan seperti kertas, sobekan-sobekan kain, patahan logam. Sebagian besar benda-benda itu telah tertutup oleh sedimentasi lumpur di dasar perairan. Satria pun mengabadikan dengan kamera Canon G16 yang dilengkapi casing khusus untuk bawah air (under water). Satria di dalam laut selama 24 menit. 2 penyelam marinir sudah memberikan kode untuk naik.

Puing-puing pesawat Lion Air di dasar perairan Tanjung Pakis Karawang. (NET/Satria Purnatama)

Sempat terjadi insiden yang membuat tegang seluruh personel Hiu III, bahkan sea rider lain. “Saya sudah melihat kode untuk diajak naik, tapi saya sempat melihat kamera saya dan kebetulan kamera mati. Lalu saya menghidupkan kamera. Pas menoleh 2 penyelam lain sudah tidak ada,” papar Satria. Satria pun menyusul naik, tapi tidak bisa langsung ke permukaan laut. Pemuda asal Salatiga ini ingat prosedur menyelam. Ia tidak boleh langsung naik seketika ke atas permukaan laut. Setiap penyelam harus menggunakan waktu sesaat untuk jeda dari bawah laut sebelum muncul ke permukaan. Namanya safety stop di kedalaman 5 meter, lamanya tergantung kedalaman penyelaman yang dilakukan. Tujuannya untuk menghindari dekompresi, membuang nitrogen dalam darah.

Puing yang diduga kuat kursi pesawat Lion Air di dasar laut Tanjung Pakis Karawang. (NET/Satria Purnatama)

Tapi di kapal suasana tegang melanda. 2 penyelam marinir sudah muncul, tapi Satria belum. Albert panik. Pikirannya berkecamuk. “Aku sampai mikir yang enggak-enggak, aku harus cerita gimana sama keluarganya?” ujar Albert mengingat ketegangan di Hiu III. Selesai safety stop, Satria baru naik ke permukaan dan ketemu perahu karet yang berisi personel Denjaka. “Gundul sudah naik,” seru personel Denjaka pada komandannya. Satria memang berkepala plontos. Satria pun sempat kena tegur karena membuat gusar seluruh tim marinir. Suasana tegang reda, Satria minta maaf. Setelah tim marinir tahu prosedur yang dijalankan Satria memang benar, mereka pun maklum. Satria membawa gambar-gambar bersejarah, puing-puing pesawat Lion Air berserak di dasar laut. 

Satria Purnatama (kiri) dan Albert Sumilat (kanan). (NET)

Senja mulai menjelang di perairan Tanjung Pakis. Matahari mulai terbenam. Sertu Mar. Hendra Saputra yang berada di Sea Rider lain turun ke laut. Saat muncul ke permukaan laut, Sertu Hendra berseru karena melihat temuan penting. Sertu Hendra melihat konsentrasi bongkahan di bawah laut yang diselaminya. Sertu Hendra kebetulan seorang penerjun taktis sehingga hafal benar dengan bentuk ekor pesawat. “Disini ekornya,” ujar Hendra yakin. Matahari tenggelam, tim korps Marinir kembali ke muara BKT Marunda. Albert dan Satria disambut oleh rekan-rekan kantornya. Gambar-gambar puing pesawat Lion Air di dasar laut pun menghiasi layar kaca NET.

Sertu Mar. Hendra Saputra saat mengangkat blackbox Lion Air ke permukaan laut. (NET/Shandy Prasetya)

Di penyelaman Kamis, 1 November, Sertu Hendra kembali ke lokasi penyelaman sehari sebelumnya. Kabar yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Sertu Hendra berhasil menemukan blackbox sekitar pukul 10.20 WIB. Dua jurnalis NET, Peter Ngantung dan Shandy Prasetya yang meneruskan misi Albert dan Satria, berkesempatan mengabadikan momen penemuan blackbox ini. Pintu masuk untuk memecahkan teka-teki penyebab jatuhnya Lion Air sudah ditemukan. Satria, Albert, Peter, dan Shandy beruntung mendapat pengalaman berharga yang tak terlupakan dalam profesi kewartawanan mereka.

TIM LIPUTAN

*) tulisan ini telah tayang di portal berita netz.id dengan judul ” Kisah Pencarian ke Dasar Perairan” oleh editor Febry Arifmawan pada 1 November 2018.

2 Responses

Leave a Reply

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
albertsumilat_tanjungkarawang_lionairjt610

Kisah Pencarian ke Dasar Perairan

Seorang kolega berpesan kepada saya, begini bunyi pesannya, “verba volant, scripta manent”, yang setelah saya tanya kurang lebih artinya adalah kata-kata lisan terbang, sementara tulisan

argomeru_maps

ARGOMERU

Argopuro via Gunung Semeru Pegunungan Hyang. Start 7 Februari 2019 via Desa BaderanFinish 10 Februari 2019 via Bremi Pendakian ini menempuh jalur non konvensional dimana